“HAKIKAT DAKWAH”
Disusun Oleh:
Farahdila
Nadhira Sari (B94219076)
Hanun Atika
Diyanah (B94219077)
Ilma Ainur
Rohmantiya (B94219078)
Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kepada
Allah SWT. yang telah memberi nikmat, kesempatan untuk mengerjakan tugas ini,
solawat dan salam tidak lupa kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terima
kasih kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’ Nursyafa’ah, M.
Kom.I serta ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan kepercayaan kepada
saya untuk mengerjakan tugas ini.
Saya
berharap buku ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan
dakwah Islam dimasa mendatang, dan mampu memicu pembacanya untuk melakukan
dakwah dengan baik.
Surabaya, 26 agustus 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................... ii
DAFTAR
ISI......................................................................... iii
BAB
I PEMBAHASAN....................................................... 1
A. Sifat-sifat Dasar Dakwah.................................... 1
B. Fungsi Dakwah.................................................... 10
C. Faktor Hidayah
dalam Sistem Dakwah............... 18
BAB
II PENUTUP............................................................... 22
DAFTAR
PUSTAKA........................................................... 23
BAB
I
PEMBAHASAN
A.
Sifat-Sifat
Dasar Dakwah
Pada dasarnya, dakwah adalah bimbingan
kepada umat Islam agar sadar terhadap penciptaanya dan terhadap Tuhan, sehingga
umat Islam bersandar serta berserah diri. Dakwah ditujukan kepada Muslim maupun
non-Muslim. Dakwah dilakukan supaya masyarakat yang sudah beragama Islam
menjadi benar-benar paham dengan ajaran Islam yang benar dan sesuai dengan
Al-Qur'an dan Sunnah. Maka dari itu dakwah harusnya membawa kedamaian dan
menunjukkan keindahan, bukannya peperangan yang menjadikan perpecahan umat. Semakin
gencar upaya dakwah semakin bersyi’arlah ajaran Islam, begitu juga sebaliknya.[1]
Selanjutnya, pembahasan tentang sifat-sifat dasar dakwah.
Sifat-sifat
dasar dakwah:
1. Dakwah
bersifat persuasif
Persusasif artinya mengajak manusia
untuk menjalakan agama sesuai dengan kesadaran dan kemauannya sendiri tanpa ada
paksaan dari orang lain.[2]
Maka jika terjadi penolakan dakwah, seorang pendakwah tidak perlu bersedih,
Allah menghiburnya dengan ayat berikut:
وَ لَا یَحۡزُنۡکَ الَّذِیۡنَ
یُسَارِعُوۡنَ فِی الۡکُفۡرِ ۚ اِنَّہُمۡ لَنۡ یَّضُرُّوا اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ
یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَلَّا یَجۡعَلَ لَہُمۡ حَظًّا فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَہُمۡ
عَذَابٌ عَظِیۡم
“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir;
sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah
sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala)
kepada mereka di hari akhirat, dan
bagi mereka azab yang besar.” (QS. Ali Imran [3]: 176).
2. Dakwah
ditujukan pada Islam dan non-Islam
Dakwah
tidak hanya ditujukan kepada seorang Muslim saja, dakwah juga disebarkan pada
seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Dakwah berusaha untuk menyebarkan dan
meratakan rahmat Allah SWT bagi seluruh penduduk bumi. Tak memandang ras, suku,
etnis, budaya, semua orang memiliki hak. Dakwah ditujukan kepada orang yang
sudah memeluk agama Islam untuk meningkatkan kualitas imannya sedangkan untuk
non-Muslim supaya mereka menerima Islam sebagai agama kebenaran. Firman Allah
berikut:
وَمَاۤ اَرۡسَلۡنٰكَ
اِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيۡرًا وَّنَذِيۡرًا وَّلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ
النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ
“Dan Kami
tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa
berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.” (QS. As Saba’ [34]: 28).
3.
Dakwah bersifat anamesis, yaitu
mengembalikan fitrah manusia
Fitrah berarti
suci. Manusia lahir dalam keadaan suci yang secara kodrat mampu menerima
kebenaran Islam. Fitrah manusia dijelaskan pada ayat berikut:
فَاَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ
عَلَيْهَا ۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ
وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۙ
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (QS. Ar-Ruum [30]:30)
4. Dakwah
bersifat pembebasan (makhrifah)
Dakwah
ini berarti bebas. Ajakan-ajakan disini dilakukan pada Muslim dan non-Muslim.
Yang namanya imbauan tidak ada paksaan apalagi pemaksaan.[3]
Mereka tidak diberatkan, melainkan dibebaskan untuk meyakini keyakinan mereka
serta umat tidak dipaksakan untuk harus
menerima ajakan dakwah. Tetapi Allah menegaskan untuk selalu mematuhi
perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan mengikuti ajaran dakwah manusia
dapat terhindar dari perbuatan menyimpang dan kembali pada jalan yang lebih
baik lagi.
5. Dakwah
bersifat edukatif
Dakwah bersifat
edukatif adalah selalu berusaha mendidik manusia kejalan yang benar, agar tidak
tenggelam dalam kebodohan dan pikiran yang kolot.
6. Dakwah
bersifat perdamaian
Islam adalah
agama yang damai, jika ada pertumpahan darah dan peperangan itu bukan Islam.
Perdamaian berarti tenang, aman, dakwah yang mengantarkan manusia menjadi
pribadi yang berakhlak mulia.
Islam
lebih tinggi dari kebenaran akal pikiran manusia. Banyak ajaran Islam yang
membawa manfaat pada kehidupan, namun akal yang tidak bisa menjelaskannya. Pada
masa asal kedatangan Islam, masyarakat Arab menganggap Nabi SAW orang gila
karena mereka tidak bisa membuktikan secara ilmiah kebenaran Al-Qur'an yang mereka
terima.[4]
Dimasa mendatang sains mengalami
kemajuan sehingga ada orang yang mengagumi dan mengimani Al-Qur'an. Maka
dari itu, sebagai Muslim yang baik, kita harus membaca Al-Qur'an dengan
maknanya juga, karena kita akan menemukan ayat yang bisa mendorong kita untuk
menggunakan akal pikiran sehingga hati kita akan tersentuh dengan makna
ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Dakwah
seharusnya mengajak secara halus, diberitahu tentang keindahan-keindahan, dan
kenikmatan memeluk agama Islam.
Cara tersebut dilakukan pada orang non-muslim sedangkan yang sudah masuk Islam,
di dakwahi dengan mempelajari tauhid, adab, dll. Pesan dakwah disampaikan
secara rasional. Melalui pendekatan rasional berarti kita mengajak kembali
manusia kembali pada sifat aslinya yaitu fitri (suci). Karena sejak lahir
manusia memiliki sifat fitrah, yang mampu menerima kebenaran Islam. Jika ia
menentang ajaran Islam, maka hal tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan dan
pergaulan sehari-hari. Karena dakwah dilakukan secara rasional, maka dakwah
tidak dibenarkan dengan cara prabawa psikotropik, yaitu hanyalah ilusi
kesenangan semata, yang membuat manusia bertindak diluar kemampuan dan
kesadarannya.[5]
Meskipun dakwah ini memiliki dampak positif, tetapi tidak dibenarkan dalam
Islam.
Manusia
sebagai pelaku dakwah tidak memandang siapapun dia, berasal darimana,
derajatnya, ras, etnis, suku. Berdakwah dengan berusaha menyebarkan Islam
kepada seluruh penduduk bumi, tanpa terkecuali.
Dakwah adalah ilmu yang mempelajari
metode, cara dan tujuan dakwah yang dipakai dalam menyebarkan agama islam agar
terbentuk masyarakat Islam yang diridhai Allah SWT.[6]
Tujuan utamanya adalah mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat malalui
pengamalan ajaran Islam.
Allah menurunkan wahyu pertama tentang
perintah membaca dan belajar melalui qalam (pena) yaitu pada surah Al-‘Alaq
ayat 1 sampai dengan 5.[7]
Rasululllah adalah orang pertama yang memenuhi ajaran Al-Qur’an. Sebagaimana
firman-Nya,
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang Menciptakan. Dia telah menciptakan; Dia Telah Menciptakan manusia dari
segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah; Yang mengajar
(manusia) dengan perntara kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)”.
Berdakwah adalah kegiatan mulia yang
tidak mudah untuk dilakukan.[8]
Seperti perjalanan dakwah Nabi yang banyak tantangan dan ancaman yang dilalui.
Banyak juga yang menentang Islam, salah satunya Kaum Quraish yang memusuhi dan
memerangi Nabi. Namun Rasulullah tidak pantang menyerah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak mulia”. Dakwah Rasulullah dilakukan dengan strategi
yang berbeda, sesuai dengan kondisi masyarakat yang menjadi objek dakwah.
Strategi awal, Nabi menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi di sekitar
lingkungan keluarga dan tetangga. Mereka yang masuk Islam pada periode awal ini
disebut sebagai assabiqunal awwanul (orang-orang yang lenih dahulu masuk Islam).[9]
Setelah turun surah al-Hijr ayat 94, mulailah Rasulullah mendakwahkan Islam
secara terang-terangan, mulai dari rakyat kecil hingga bangsawan.
Nabi Muhammad SAW juga berdakwah dengan
dua aspek, yaitu agama dan ilmu pengetahuan.[10]
Seperti ungkapan berikut, “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”
(Albert Einstein). Jadi, agama dan ilmu pengetahuan sangat berkaitan dalam
pelaksanaan dakwah. Para awam agama bisa diajak dengan pelan-pelan dan para
orang terpelajar bisa didakwahi dengan sentuhan-sentuhan ilmu pengetahuan. Ilmu
dan agama merupakan dua elemen penting bagi umat manusia untuk menata diri,
berperilaku, berbangsa, dan bernegara.
Sebagai makhluk yang berakal manusia
menyadari kebutuhannya untuk mendapatkan kepastian. Melalui sains, manusia
dapat memahami keberadaan dan lingkungannya. Sedangkan agama menyadarkan bahwa
manusia memiliki hubungan pada seluruh aspek kehidupan hingga kematian, serta
hubungan pada Sang Khalik.
Rasulullah terus mengajak pada umat
manusia untuk belajar membaca dan menulis. Umat Islam pun menyambut seruan
Allah dan hadits nabi tentang ilmu dengan antusias. Mereka belajar membaca dan
menulis agar dapat menyebarluaskan agamanya. Para sahabat dan tokoh-tokoh Muslim
yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW mengajarkan ilmu kepada anak di
sebuah negara. Sehingga, saat ditinggal pergi mereka punya bekal ilmu, dan bila
mereka singgah di suatu daerah atau Negara mereka bisa mendirikan halaqah (perkumpulan
untuk belajar membentuk lingkaran).[11]
Sampai sekarang masjid merupakan taman
pendidikan sejak Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah. Masjid itu tidak
hanya digunakan untuk ibadah saja, namun juga tempat untuk menuntut ilmu yang
bisa dihadiri banyak orang.
B. Fungsi Dakwah
Dakwah berfungsi sebagai proses peningkatan
kualitas penerapan ajaran agama Islam, sedangkan untuk non-muslim fungsi dakwah
minimal adalah memperkenalkan dan mengajak mereka agar memeluk agama Islam
secara sukarela.[12]
Dakwah
Islamiyah memiliki kaya nuansa. Sebab dakwah harus berhadapan dengan dinamika
kehidupan manusia. Maka dakwah pun menjadi
dinamis, agar bisa selaras dengan kondisi lingkungan manusia yang didakwahinya.
Karena dinamis itulah maka dakwah selain berfungsi untuk melakukan perubahan ke
arah yang lebih baik, juga dakwah sendiri senantiasa lekat dengan perubahan
pada dirinya.
Berdasarkan
fungsi dakwah menurut Islam bahwa dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari
pengalaman keislaman seseorang, maka tindakan dakwah dapat dilakukan dengan
berbagai cara dan media sepanjang hal itu bersesuaian dengan kaidah ajaran
Islam.[13] Namun demikian, karena
sifat khusus tindakan dakwah, maka hanya tindakan yang berisi ajakan, seruan,
panggilan, dan penyampaian pesan seseorang atau sekelompok orang (Organisasi/Lembaga)
sehingga orang lain dan masyarakat menjadi muslim yang dapat disebut sebagai
tindakan dakwah dalam pengertiannya yang luas.
Sistem
dakwah memiliki fungsi mengubah lingkungan secara lebih terinci, yang memiliki
fungsi: meletakkan dasar eksistensi masyarakat Islam, menanamkan nilai-nilai
keadilan, persamaan, persatuan,
perdamaian, kebaikan, dan keindahan, sebagai inti penggerak perkembangan
masyarakat; membebaskan individu dan
masyarakat dari sistem kehidupan zalim (Tirani, Totaliter); menyampaikan kritik
sosial atas penyimpangan yang berlaku dalam masyarakat; merealisasi sistem
budaya yang berakar pada dimensi
spiritual yang merupakan dasar ekspresi akidah; meningkatkan kesadaran masyarakat
untuk menegakkan hukum; mengintegrasikan kelompok-kelompok kecil menjadi suatu
kesatuan umat.
Thoha Yahya Omar, menyatakan bahwa dakwah
adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai
dengan perintah tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan
di akhirat.[14]
Di
kalangan umat Islam terdapat
pandangan bahwa Islam tidak bisa hidup dalam kemodernan. Ketika bersentuhan
dengan aspek modernitas, mereka kemudian menggugat keagamaan mereka. Jika tidak
menemukan jawaban yang memuaskan, mereka dapat menjadi Skeptis, Ateis, atau
bisa juga Radikalis.
Menurut
Sayyid Quthud fungsi dakwah setidaknya ada tiga macam, yaitu:[15]
1. Menyampaikan kebenaran Islam (Al-Tabligh Wa Al-Bayan)
Menurut Qurhub Tabligh menyampaikan dan
menyeru manusia kepada kebenaran agama, terutama kebenaran Aqidah Tauhid.
2. Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar merupakan
keharusan agam dan tuntutan iman. Amar Ma’ruf merupakan bagian penting dalam
dakwah, merupakan kewajiban kaum muslim baik sebagai individu maupun umat,
sekaligus menjadi ciri dan karakternya yang menonjol yang membedakan antara
masyarakat Islam dengan masyarakat lain.
3. Perang suci (jihad fi sabilillah)
Jihad bisa dipahami sebagai usaha yang
sungguh-sungguh, dengan mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki di waktu
perang, atau di waktu damai, dengan lisan atau dengan apa saja demi meninggikan
kalimat Allah dan memuliakan gama-Nya.
Tanpa
dakwah, umat Islam dapat kehilangan arah. Dengan dakwah umat Islam menjadi
saudara, seperti dalam potret idealitas. Kehidupan seorang dapat dilihat dari
keyakinannya, sedangkan keyakinan itu ditentukan oleh pengetahuannya.
Kerusakan telah melanda seluruh dunia,
sehingga tidak ada di atas bumi ini-pada masa itu-satu umat yang baik wataknya;
tidak ada satu masyarakat pun yang tegak di atas dasar kebijakan dan akhlak
luhur; tidak satu pun pemerintahan yang bersendikan keadilan dan kasih sayang;
tidak ada kepemimpinan yang mencerminkan ilmu dan hikmah; dan tidak ada satu
agama asli yang benar-benar sesuai dengan ajaran Nabi-nabi.[16]
Dakwah
Islam tidak hanya untuk umat Islam saja tetapi demi perbaikan manusia
seluruhnya. Dunia membutuhkan dakwah Islam agar tidak hancur. Masyarakat
didunia ini tidak ingin dikuasai oleh kekuatan mana pun yang penindas, perusak
moral, dan serakah
Dengan
dakwah pula, kebenaran Islam tidak akan berhenti dalam satu generasi. Dakwah
Islam berfungsi sebagai estafet bagi peradaban manusia. Dakwah berfungsi
menjaga orisinilitas pesan dakwah dari nabi SAW dan menyebarkannya kepada
lintas generasi. Dunia dalam keadaan bahaya bila dakwah berhenti. Berikut
adalah salah satu ayat yang menjelaskan siksa bagi masyarakat yang menentang dakwah.
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ
وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ
ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Belumkah datang kepada
mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum
Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah
musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan
yang nyata, maka Allah tidaklah
sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri
mereka sendiri. (QS. At-Taubah [9]: 70)
Sedangkan salah satu hadis
menjelaskan bahwa fungsi dakwah adalah mencegah laknat Allah SWT, yakni siksa
untuk keseluruhan manusia didunia. Ajaran yang disiarkan melalui dakwah dapat
menyelamatkan manusia dan masyarakat pada umumnya dan hal-hal yang dapat
membawa pada kehancuran. Oleh karena itu dakwah bukanlah suatu pekerjaan yang
asal dilaksanakan sambil lalu saja, melainkan suatu pekerjaan yang sudah
menjadi kewajiban bagi setiap pengikutnya. Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ
أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung. (QS. Al-Imran [2]: 104)”.
C. Faktor Hidayah dalam Sistem Dakwah
Di dalam
dakwah, tentunya terdapat sistem yang mendukung keberhasilan dakwah tersebut.
Sistem dakwah merupakan rangkaian unsur-unsur dakwah yang saling memengaruhi
satu sama lain, namun memiliki satu tujuan untuk menyatukan. Sistem dakwah
merupakan salah satu unsur yang dapat mempengaruhi tercapainya tujuan dalam
dakwah. Di dalam sistem dakwah, tentunya tidak akan lepas dari adanya beberapa
faktor. Salah satu faktor yang terdapat dalam sistem dakwah yaitu faktor
hidayah. Hidayah merupakan petunjuk yang langsung diberikan oleh Allah SWT
kepada hamba yang telah dikehendaki-Nya untuk menuju ke jalan yang benar atau
lurus. Tidak hanya dapat diartikan sebagai petunjuk ke jalan yang benar atau
lurus, hidayah juga dapat diartikan secara luas. Dengan adanya rezeki,
pertolongan, dan pemberian apa pun yang telah Allah SWT berikan, itu semua
dapat diartikan sebagai hidayah. Hidayah juga dapat diartikan menjadi dua. Pertama,
hidayah hanya dapat merujuk kepada diberikannya pemahaman tentang Islam yang
lebih mendalam. Kedua, hidayah sebagai petunjuk agar manusia sedikit
demi dapat menggerakkan dirinya untuk menjalankan ajaran Islam yang telah
dipahaminya. Banyak sekali cara Allah SWT untuk memberikan hidayah kepada
Hamba-Nya. Namun, terkadang hamba-Nya tidak menyadari bahwa sesungguhnya dia
telah mendapatkan hidayah dari Allah SWT.[17]
Berbeda dengan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT
kepada Hamba-Nya, istilah hidayah untuk hubungan manusia dengan manusia adalah
dengan memberikan hadiah sebagai petunjuk rasa simpati dari pemberi hadiah
kepada penerima. Tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikan dirinya
sebagai makhluk yang mendapatkan hidayah dengan selalu memperbaiki hubungannya
dengan Allah SWT maupun dengan sesama makhluk-Nya.
Manusia dapat mengusahakan agar dirinya mendapatkan
hidayah dari Allah SWT dengan banyak cara. Seperti memperdalam ilmu
pengetahuannya tentang Islam. Salah satunya dengan membaca buku-buku yang
berisi tentang pemahaman Islam yang mendalam. Dengan membaca buku-buku ilmu
pengetahuan tentang Islam, akan mempengaruhi pikiran pembaca agar lebih ingin
mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam ajaran agama Islam itu. Meskipun
membutuhkan waktu yang relatif lama, karena memahami buku tidak hanya dilakukan
satu atau dua kali. Butuh waktu yang relatif lama untuk memahami isi-isi buku
tersebut secara mendalam. Ikhtiar memperoleh hidayah dengan membaca buku-buku
tentang Islam, terkadang tidak membutuhkan orang lain, karena terkadang hidayah
itu datang tanpa di duga.[18]
Memperdalam ilmu pengetahuan tentang Islam tidak hanya
dapat dilakukan dengan membaca buku-buku tentang Islam saja, melainkan dapat
dilakukan dengan terjun langsung ke dalam masyarakat dan membuktikan apa yang
telah dipelajari dalam buku-buku atau bacaan. Melihat kondisi suatu masyarakat
muslim di sebuah wilayah agar dapat lebih mendalami.
Wilayah Islam yang menjadi tempat perlindungan dari
ancaman kerusuhan akan sangat berpengaruh untuk seseorang, karena di situlah
seseorang akan merasakan bagaimana rasanya kedamaian hidup sehingga orang
tersebut lama kelamaan akan terpengaruh oleh keadaannya dilingkungannya
sehari-hari. Di situlah hidayah dari Allah SWT akan muncul.[19]
Tidak hanya terjun ke dalam wilayah yang menjadi tempat
perlindungan, seseorang dapat mempelajari tentang agama-agama yang ada di dunia
ini. Setiap agama mempunyai pedoman masing-masing. Seperti agama Islam yang
berpedoman kepada Al-Quran dan Hadits. Jika Allah SWT berkehendak, maka hanya
dengan Al-Quran seorang makhluk yang sebelumnya berbuat menyimpang dari
kebenaran, dapat kembali ke jalan kebenaran. Proses pendalaman menggunakan
pedoman-pedoman agama tidak dapat di ukur seberapa lama waktunya. Bisa jadi
pada saat orang tersebut masih dalam proses pendalaman tentang Islam, Allah SWT
dengan waktu yang tak disangka-sangka memberikan hidayah langsung kepada
Hamba-Nya. Dengan keindahan bahasa Al-Quran, dapat memikat seseorang untuk
lebih mencintainya dan ingin lebih mengetahui isi serta ingin untuk
mengamalkannya. Keindahan bahasa Al-Quran dapat memengaruhi pikiran seseorang
dan dapat menggerakkan hatinya untuk lebih ingin menuju kebenaran.
Terkadang Allah SWT juga memberikan hidayah kepada
Hamba-Nya dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Allah SWT memberikan
musibah kepada hamba yang dikehendaki-Nya agar mereka sadar. Seperti halnya
mendekatkan kematian kepada seorang hamba agar ia sadar dan menuju ke jalan
yang benar dan menjadi yang lebih baik. Karena dengan mendekatkan kematian
kepada seseorang, mungkin dapat menyadarkan bahwa kekuatan manusia itu tidak
ada apa-apanya dibanding kekuasaan Allah SWT. Jika kematian sudah ada di depan
mata, manusia hanya dapat berserah diri dengan apa yang terjadi.[20]
Setelah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT di saat
keadaan menggambarkan bahwa kematian sudah di depan mata, namun ia masih
diselamatkan oleh Allah SWT dan di situlah hamba tersebut akan mengerti jika
Allah SWT menginginkan ia menuju jalan kebenaran dan menjadi yang lebih baik
lagi.
Ada hal yang tidak bisa dihindarkan dari manusia, yaitu kerja
sama antara manusia satu dengan yang lainnya. Dengan adanya kerja sama, maka
lebih memudahkan untuk manusia mendapatkan hidayah dan menjalankan dakwah.
Ketika seseorang mampu berbaur dengan orang lain, dengan begitu tidak menutup
kemungkinan untuk orang tersebut mendapatkan hidayah dari cara kerja sama
tersebut.[21]
Dengan begitu
dakwah akan lebih mudah, karena Allah SWT telah memberikan hidayah-Nya kepada
hamba-hamba yang dicintai-Nya. Umat Islam akan lebih mudah untuk diarahkan ke
jalan kebenaran setelah mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah bahwa dalam proses
berdakwah sangat penting memperhatikan hakikat dakwah maupun tentang dakwah
lainnya, supaya mitra dakwah dapat dengan mudah menerima apa yang kita
sampaikan.
Daftar Pustaka
Ahmad, Amrullah. Dakwah dan Perubahan
Sosial. Yogyakarta: Prima Duta, 1983.
Anas,
Muhammad Yusuf. Kisah 10 Mualaf Paling Berpengaruh di Eropa. Jogjakarta:
Diva Press, 2010.
Aripudin, Acep., Mudhofir Abdullah. Perbandingan
Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2014.
As, A. Sunarto. Etika Dakwah. Surabaya:
Uinsa Press, 2014.
Aziz, Moh Ali. Ilmu dakwah.
Jakarta: Kencana. 2017.
Hafidhuddin, Didin. Dakwah Aktual. Jakarta:
Gema Insani Press, 1998.
Hamid, Nadjib, dan Heny Siswono. Pendidikan
Al-Islam. Surabaya: Dikdasmen PWM Jatim, 2012.
Ismail, Ilyas. Rekonstruksi
Pemikiran Dakwah Harakah.
Jakarta: Penamadani, 2008.
Jasmadi. 2013.
At-Tabsyir. Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Komunitas.
Membangun Relasi Hubungan antara Umat Beragama. Vol. 5: 170.
K. Albi, Ramadhani, Julian A., Muhammad Aref
Rahma. Dr. Zakir Naik, Dokter yang Mengislamkan Ratusan Ribu Orang. Yogyakarta: Mutiara Media, 2016.
Muchlisah, Fauziyah. Kisah Para Mualaf yang
Menemukan Kebahagiaan dan Kesejukan Islam. Jakarta: Kanaya Press, 2014.
Mulkhan. 2013. Budaya Massa dan Budaya Populer. Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam. Vol. 1, Nomor 2..
Rubba, Sheh Sulhawi. Serpihan sejarah dakwah.
Surabaya: Uinsa Press, 2019.
Salahuddin, Rahmad. Pendidikan Al-Islam. Surabaya:
Majelis Dikdasmen PWM Jatim, 2012.
Taufik, M Tata. 2013. Dakwah Era Digital. Pengertian Ilmu
Dakwah. Kuningan: Pustaka Al-Ikhlas.
http://www.said.net/book/19/12447.pdf
(Bandung: PT Remaja
Rosadakarya, 2014), h. 54
[8]
Albi K., Ramadhani, Julian
A., Muhammad Aref Rahmat, Dr. Zakir Naik
Dokter yang Mengislamkan Ratusan Ribu Orang, Cet. 3 (Yogyakarta: Mutiara
Media, 2016)
[9]
Nadjib Hamid, Heny
Siswondo, Pendidikan A-Islam, Cet. 4
(Surabaya: Majelis Dikdasmen PWM Jatim, 2016), h. 87
[10] Rahmat Salahuddin TP, Pendidikan Al-Islam VIII, (Surabaya:
Majelis Dikdasmen PWM Jatim), h. 187
[11]
Rahmat Salahuddin TP, Pendidikan Al-Islam VIII, (Surabaya:
Majelis Dikdasmen PWM Jatim), h. 188
[13] Mulkhan, “Budaya Massa dan Budaya Populer“, Jurnal Komunikasi Penyiaran
Islam, (Kudus:2013), h.30
[15] Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah Sayyid Quthub: Rekontruksi Pemikiran
Dakwah Harakah, Cet. 2 (Jakarta: Penamadani, 2008), hh. 164-177
[17]
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), hh.
106-107
[18]
Fauziah Muclisah, Kisah Para Mualaf yang Menemukan Kebahagiaan dan
Kesejukan Islam , Cet 1 (Jakarta: Kanaya Press, 2014), h. 6
[19]
Sheh Sulhawi Rubba, Serpihan Sejarah Dakwah, Cet 2 (Surabaya: Uinsa
Press, 2019) h. 22
[20]
Muhammad Yusuf Anas, Kisah 10 Mualaf paling Berpengaruh di Eropa, Cet
1 (Jogjakarta: Diva Press, 2010), hh. 196-197
[21]
Jasmadi, “Membangun Relasi Hubungan antara Umat Beragama”,
Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Komunikasi, 2010, h.170
bagus sekali sangat membantu dalam pengerjaan makalah dan juga dapat lebih tau apa itu hakikat dakwah agar dakwah berjalan dengan lancar
BalasHapusSangat bermanfaat dan semoga bisa mengambil ilmu sebanyak banyaknya dari materi tsb
BalasHapusterima kasih atas informasinya semoga bermanfaat bagi banyak orang dan bisa ditingkatkan kembali
BalasHapusSaya jadi lebih paham tentang hakikat dakwah. Semoga bermanfaat,dan lebih banyak menginspirasi orang lain :)
BalasHapusAlhamdulillah terimakasih atas infonya dan bermanfaat bagi saya pribadi khusunya=))
BalasHapusSemoga bermanfaat bagi saya dan pembaca lainnya,
BalasHapusTerimah kasih, ini sangat membantu saya. Somoga bermanfaat ukhti. Semangat 🤗
BalasHapuspembahasan yang mudah dipahami sehingga mudah menerapkan di kehidupan masyarakat,terima kasih.
BalasHapusSaya jadi lebih paham tentang hakikat dakwah. Semoga bermanfaat,dan lebih banyak menginspirasi orang lain :)
BalasHapusSukses selalu, semoga allah meridhoi semua langkah kamu
Sangat membantu pengetahuan bagi semua orang yang membaca, materinya juga bagus
BalasHapusterima kasih
Materi yang diberikan sangat bermanfaat dan mudah dipahami,semoga juga bisa bermanfaat bagi pembaca yang lain
BalasHapusThat's good, lebih dikembangkan lagi yah, jangan mudah puas dengan hasilnya
BalasHapusThat makalah so good. More good when ad more referensi again . So the rider more scien about dakwah
BalasHapusAlhamdulillah sudah bagus semoga bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah ilmu
BalasHapusAllhamdulillah makala ini ada yang mengunggah semoga dapat membantu makala saya dalam mengerjakan tugas terima kasih
BalasHapusMakalahnya sangat bagus dan kreatif terus membuat makalah yang bermanfaat bagi kita semua.
BalasHapusSemoga bisa bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah khazanah keilmuan
BalasHapusSemoga bisa bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah khazanah keilmuan
BalasHapusMakalahnya bagus materinya mudah di pahami, karena singkat, padat, dan jelas. Penjelasan di pptnya juga bagus karena tidak bertele-tele.
BalasHapusMakalah anda sangat bermanfaat bahwa hakikat dakwah itu penting dalam berdakwah.
BalasHapusGreat post! Makalah ini bermanfaat bagi saya, saya bisa mengetahui sifat sifat dasar dan fungsi dakwah. Syukron
BalasHapusIsi materi sudah bagus, tpi masih ada beberapa tanda baca yang slah
BalasHapusmantaaap, mengedukasi. hanya saja perlu disunting ulang karena masih ada salah penulisan (typo)
BalasHapusGood job, sangat membantu dan blognya sangat bagus semoga kedepannya bisa berkarya :))
BalasHapusAlhamdulillah sangat menginspirasi, lebih di tingkat kan lagi, insyaallah barokah, aamiin
BalasHapusGood job, makalah ini sangat bagus,bahasa mudah dipahami,dan sangat membantu
BalasHapusMakalahnya mantap, semoga istiqomah dalam berkarya dan bermanfaat bagi yang lain
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussangat bagus makalahnya semoga lebih bermanfaat
BalasHapusMasya allah bagus dan menarik sekali materinya semoga bermafaat bagi semua yang membacanya.semoga lebih baik kedepannya😊
BalasHapusAlhamdulillah sangat membantu menambah pengetahuan saya dan lebih ditingkatkan lagi
BalasHapusSangat bermanfaat sekali makalah ini dan menginspirasi kita sebagai kaum milenial yg mengerti apa itu dakwah
BalasHapusAlhamdulillah makalahnya sangat bermanfaat, isinya sangat berbobot dan mudah untuk dipahami maksutnya
BalasHapusBahasa yang dipakai mudah untuk dipahami. Menambah pengetahuan saya juga dan sangat menarik
BalasHapusMakalahnya bagus dan semoga bermanfaat bagi pembaca
BalasHapusAlhamdulillah, terima kasih banyak, ilmu saya menjadi bertambah, semoga bermanfaat untuk pembaca yang lain :)
BalasHapussangat bagus, banyak ilmu yang bisa diambil dari makalah ini! materinya juga mudah dipahami!
BalasHapusSudah bagus, tapi ada sebagian slide yang masih kurang rapi, dan perlu dirapikan lainnya sudah bagus
BalasHapusSudah bagus, tapi ada sebagian slide yang masih kurang rapi, dan perlu dirapikan lainnya sudah bagus
BalasHapusterima kasih sudah memudakan kami dalam meringkas materi
BalasHapusAlhamdulillah. Materi nya bermanfaat , membantu sekali untuk mempermudah mencari tentang materi dakwah
BalasHapusMasya Allah materi nya sangat bermanfaat
BalasHapusGreat post! Berguna sekali untuk saya. Namun blognya kurang tersusun dengan rapi. Terimakasih.
BalasHapusGreat post! Berguna sekali untuk saya. Namun blognya kurang tersusun dengan rapi. Terimakasih.
BalasHapussangat mengedukasi dan bermanfaat, ditunggu tulisan selanjutnya
BalasHapusMa syaa Allah sangat bermanfaat sekali, tetap semangat ya💪, Barakallah ya ☺☺
BalasHapusSudah bagus, tapi ada sebagian slide yang masih kurang rapi, dan perlu dirapikan lainnya sudah bagus
BalasHapusSangat membantu. Materi sangat mudah dipahami, semoga bermanfaat bagi pembaca. Semangat,dutunggu karya selanjutnya
BalasHapusBagus, menambah wawasan, semoga bermanfaat buat sobat yang membacanya, dan tetaplah teliti.
BalasHapusMakalah yang bagus.. menggunakan kata2 yang mudah dipahami.. dan semoga bermanfaat untuk kita semuaa.. semangat belajar lagii 😁
BalasHapusSangat membantu pengetahuan bagi semua orang yang membaca, materinya juga bagus
BalasHapusterima kasih
Bagus sekali makalahnya saya jadi paham dan mengerti mengenai materi tersebut
BalasHapusMateri yang disampaikan sudah jelas, dan terperinci, dan Alhamdulillah bisa menambah wawasan saya.
BalasHapusAlhamdulillah bisa mengetahui materi tentang hakikat dalam dakwah ,sekaligus fadhilla dalam dakwah sendiri,menjadikan edukasi dalam berdakwah,semoga barokah ....
BalasHapusAlhamdulillah ilmu yang saya dapat dimakalah ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari hari
BalasHapusSangat bermanfaat, alhamdulillah sekarang saya lebih mengerti semoga dapat saya amalkan di kehidupan sehari hari
BalasHapus