Senin, 23 September 2019

“HAKIKAT DAKWAH”
Disusun Oleh:
Farahdila Nadhira Sari (B94219076)
Hanun Atika Diyanah (B94219077)
Ilma Ainur Rohmantiya (B94219078)
Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT. yang telah memberi nikmat, kesempatan untuk mengerjakan tugas ini, solawat dan salam tidak lupa kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’ Nursyafa’ah, M. Kom.I serta ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengerjakan tugas ini.
            Saya berharap buku ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan dakwah Islam dimasa mendatang, dan mampu memicu pembacanya untuk melakukan dakwah dengan baik.

Surabaya, 26 agustus 2019


Penyusun

         



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................   ii
DAFTAR ISI.........................................................................   iii
BAB I PEMBAHASAN.......................................................   1
A.    Sifat-sifat Dasar Dakwah....................................   1
B.     Fungsi Dakwah....................................................   10
C.     Faktor Hidayah dalam Sistem Dakwah...............   18
BAB II PENUTUP...............................................................   22
DAFTAR PUSTAKA...........................................................   23






BAB I
PEMBAHASAN

A.    Sifat-Sifat Dasar Dakwah
Pada dasarnya, dakwah adalah bimbingan kepada umat Islam agar sadar terhadap penciptaanya dan terhadap Tuhan, sehingga umat Islam bersandar serta berserah diri. Dakwah ditujukan kepada Muslim maupun non-Muslim. Dakwah dilakukan supaya masyarakat yang sudah beragama Islam menjadi benar-benar paham dengan ajaran Islam yang benar dan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Maka dari itu dakwah harusnya membawa kedamaian dan menunjukkan keindahan, bukannya peperangan yang menjadikan perpecahan umat. Semakin gencar upaya dakwah semakin bersyi’arlah ajaran Islam, begitu juga sebaliknya.[1] Selanjutnya, pembahasan tentang sifat-sifat dasar dakwah.
Sifat-sifat dasar dakwah:
1.      Dakwah bersifat persuasif
Persusasif artinya mengajak manusia untuk menjalakan agama sesuai dengan kesadaran dan kemauannya sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain.[2] Maka jika terjadi penolakan dakwah, seorang pendakwah tidak perlu bersedih, Allah menghiburnya dengan ayat berikut:
                                                               
وَ لَا یَحۡزُنۡکَ الَّذِیۡنَ یُسَارِعُوۡنَ فِی الۡکُفۡرِ ۚ اِنَّہُمۡ لَنۡ یَّضُرُّوا اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَلَّا یَجۡعَلَ لَہُمۡ حَظًّا فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡم

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. Ali Imran [3]: 176).
                                               
2.      Dakwah ditujukan pada Islam dan non-Islam
Dakwah tidak hanya ditujukan kepada seorang Muslim saja, dakwah juga disebarkan pada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Dakwah berusaha untuk menyebarkan dan meratakan rahmat Allah SWT bagi seluruh penduduk bumi. Tak memandang ras, suku, etnis, budaya, semua orang memiliki hak. Dakwah ditujukan kepada orang yang sudah memeluk agama Islam untuk meningkatkan kualitas imannya sedangkan untuk non-Muslim supaya mereka menerima Islam sebagai agama kebenaran. Firman Allah berikut:

وَمَاۤ اَرۡسَلۡنٰكَ اِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيۡرًا وَّنَذِيۡرًا وَّلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. As Saba’ [34]: 28).

3.      Dakwah bersifat anamesis, yaitu mengembalikan fitrah manusia

Fitrah berarti suci. Manusia lahir dalam keadaan suci yang secara kodrat mampu menerima kebenaran Islam. Fitrah manusia dijelaskan pada ayat berikut:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۙ
 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruum [30]:30)

4.      Dakwah bersifat pembebasan (makhrifah)
Dakwah ini berarti bebas. Ajakan-ajakan disini dilakukan pada Muslim dan non-Muslim. Yang namanya imbauan tidak ada paksaan apalagi pemaksaan.[3] Mereka tidak diberatkan, melainkan dibebaskan untuk meyakini keyakinan mereka serta umat tidak dipaksakan untuk harus menerima ajakan dakwah. Tetapi Allah menegaskan untuk selalu mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan mengikuti ajaran dakwah manusia dapat terhindar dari perbuatan menyimpang dan kembali pada jalan yang lebih baik lagi.

5.      Dakwah bersifat edukatif
Dakwah bersifat edukatif adalah selalu berusaha mendidik manusia kejalan yang benar, agar tidak tenggelam dalam kebodohan dan pikiran yang kolot.

6.      Dakwah bersifat perdamaian
Islam adalah agama yang damai, jika ada pertumpahan darah dan peperangan itu bukan Islam. Perdamaian berarti tenang, aman, dakwah yang mengantarkan manusia menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Islam lebih tinggi dari kebenaran akal pikiran manusia. Banyak ajaran Islam yang membawa manfaat pada kehidupan, namun akal yang tidak bisa menjelaskannya. Pada masa asal kedatangan Islam, masyarakat Arab menganggap Nabi SAW orang gila karena mereka tidak bisa membuktikan secara ilmiah kebenaran Al-Qur'an yang mereka terima.[4] Dimasa mendatang sains mengalami  kemajuan sehingga ada orang yang mengagumi dan mengimani Al-Qur'an. Maka dari itu, sebagai Muslim yang baik, kita harus membaca Al-Qur'an dengan maknanya juga, karena kita akan menemukan ayat yang bisa mendorong kita untuk menggunakan akal pikiran sehingga hati kita akan tersentuh dengan makna ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Dakwah seharusnya mengajak secara halus, diberitahu tentang keindahan-keindahan, dan kenikmatan memeluk agama Islam. Cara tersebut dilakukan pada orang non-muslim sedangkan yang sudah masuk Islam, di dakwahi dengan mempelajari tauhid, adab, dll. Pesan dakwah disampaikan secara rasional. Melalui pendekatan rasional berarti kita mengajak kembali manusia kembali pada sifat aslinya yaitu fitri (suci). Karena sejak lahir manusia memiliki sifat fitrah, yang mampu menerima kebenaran Islam. Jika ia menentang ajaran Islam, maka hal tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan dan pergaulan sehari-hari. Karena dakwah dilakukan secara rasional, maka dakwah tidak dibenarkan dengan cara prabawa psikotropik, yaitu hanyalah ilusi kesenangan semata, yang membuat manusia bertindak diluar kemampuan dan kesadarannya.[5] Meskipun dakwah ini memiliki dampak positif, tetapi tidak dibenarkan dalam Islam.
Manusia sebagai pelaku dakwah tidak memandang siapapun dia, berasal darimana, derajatnya, ras, etnis, suku. Berdakwah dengan berusaha menyebarkan Islam kepada seluruh penduduk bumi, tanpa terkecuali. 
Dakwah adalah ilmu yang mempelajari metode, cara dan tujuan dakwah yang dipakai dalam menyebarkan agama islam agar terbentuk masyarakat Islam yang diridhai Allah SWT.[6] Tujuan utamanya adalah mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat malalui pengamalan ajaran Islam.
Allah menurunkan wahyu pertama tentang perintah membaca dan belajar melalui qalam (pena) yaitu pada surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai dengan 5.[7] Rasululllah adalah orang pertama yang memenuhi ajaran Al-Qur’an. Sebagaimana firman-Nya,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan; Dia Telah Menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah; Yang mengajar (manusia) dengan perntara kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)”.
Berdakwah adalah kegiatan mulia yang tidak mudah untuk dilakukan.[8] Seperti perjalanan dakwah Nabi yang banyak tantangan dan ancaman yang dilalui. Banyak juga yang menentang Islam, salah satunya Kaum Quraish yang memusuhi dan memerangi Nabi. Namun Rasulullah tidak pantang menyerah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Dakwah Rasulullah dilakukan dengan strategi yang berbeda, sesuai dengan kondisi masyarakat yang menjadi objek dakwah. Strategi awal, Nabi menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi di sekitar lingkungan keluarga dan tetangga. Mereka yang masuk Islam pada periode awal ini disebut sebagai assabiqunal awwanul (orang-orang yang lenih dahulu masuk Islam).[9] Setelah turun surah al-Hijr ayat 94, mulailah Rasulullah mendakwahkan Islam secara terang-terangan, mulai dari rakyat kecil hingga bangsawan.
Nabi Muhammad SAW juga berdakwah dengan dua aspek, yaitu agama dan ilmu pengetahuan.[10] Seperti ungkapan berikut, “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” (Albert Einstein). Jadi, agama dan ilmu pengetahuan sangat berkaitan dalam pelaksanaan dakwah. Para awam agama bisa diajak dengan pelan-pelan dan para orang terpelajar bisa didakwahi dengan sentuhan-sentuhan ilmu pengetahuan. Ilmu dan agama merupakan dua elemen penting bagi umat manusia untuk menata diri, berperilaku, berbangsa, dan bernegara.
Sebagai makhluk yang berakal manusia menyadari kebutuhannya untuk mendapatkan kepastian. Melalui sains, manusia dapat memahami keberadaan dan lingkungannya. Sedangkan agama menyadarkan bahwa manusia memiliki hubungan pada seluruh aspek kehidupan hingga kematian, serta hubungan pada Sang Khalik.
Rasulullah terus mengajak pada umat manusia untuk belajar membaca dan menulis. Umat Islam pun menyambut seruan Allah dan hadits nabi tentang ilmu dengan antusias. Mereka belajar membaca dan menulis agar dapat menyebarluaskan agamanya. Para sahabat dan tokoh-tokoh Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW mengajarkan ilmu kepada anak di sebuah negara. Sehingga, saat ditinggal pergi mereka punya bekal ilmu, dan bila mereka singgah di suatu daerah atau Negara mereka bisa mendirikan halaqah (perkumpulan untuk belajar membentuk lingkaran).[11]
Sampai sekarang masjid merupakan taman pendidikan sejak Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah. Masjid itu tidak hanya digunakan untuk ibadah saja, namun juga tempat untuk menuntut ilmu yang bisa dihadiri banyak orang.
B.     Fungsi Dakwah
      Dakwah berfungsi sebagai proses peningkatan kualitas penerapan ajaran agama Islam, sedangkan untuk non-muslim fungsi dakwah minimal adalah memperkenalkan dan mengajak mereka agar memeluk agama Islam secara sukarela.[12]
            Dakwah Islamiyah memiliki kaya nuansa. Sebab dakwah harus berhadapan dengan dinamika kehidupan manusia. Maka dakwah pun menjadi dinamis, agar bisa selaras dengan kondisi lingkungan manusia yang didakwahinya. Karena dinamis itulah maka dakwah selain berfungsi untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, juga dakwah sendiri senantiasa lekat dengan perubahan pada dirinya.
            Berdasarkan fungsi dakwah menurut Islam bahwa dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman keislaman seseorang, maka tindakan dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media sepanjang hal itu bersesuaian dengan kaidah ajaran Islam.[13] Namun demikian, karena sifat khusus tindakan dakwah, maka hanya tindakan yang berisi ajakan, seruan, panggilan, dan penyampaian pesan seseorang atau sekelompok orang (Organisasi/Lembaga) sehingga orang lain dan masyarakat menjadi muslim yang dapat disebut sebagai tindakan dakwah dalam pengertiannya yang luas.
            Sistem dakwah memiliki fungsi mengubah lingkungan secara lebih terinci, yang memiliki fungsi: meletakkan dasar eksistensi masyarakat Islam, menanamkan nilai-nilai keadilan, persamaan,  persatuan, perdamaian, kebaikan, dan keindahan, sebagai inti penggerak perkembangan masyarakat; membebaskan  individu dan masyarakat dari sistem kehidupan zalim (Tirani, Totaliter); menyampaikan kritik sosial atas penyimpangan yang berlaku dalam masyarakat; merealisasi sistem budaya yang berakar pada  dimensi spiritual yang merupakan dasar ekspresi akidah; meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menegakkan hukum; mengintegrasikan kelompok-kelompok kecil menjadi suatu kesatuan umat.
Thoha Yahya Omar, menyatakan bahwa dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.[14]
            Di kalangan umat  Islam terdapat pandangan bahwa Islam tidak bisa hidup dalam kemodernan. Ketika bersentuhan dengan aspek modernitas, mereka kemudian menggugat keagamaan mereka. Jika tidak menemukan jawaban yang memuaskan, mereka dapat menjadi Skeptis, Ateis, atau bisa juga Radikalis.
            Menurut Sayyid Quthud fungsi dakwah setidaknya ada tiga macam, yaitu:[15]
1.      Menyampaikan kebenaran Islam (Al-Tabligh Wa Al-Bayan)
Menurut Qurhub Tabligh menyampaikan dan menyeru manusia kepada kebenaran agama, terutama kebenaran Aqidah Tauhid.
2.      Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar merupakan keharusan agam dan tuntutan iman. Amar Ma’ruf merupakan bagian penting dalam dakwah, merupakan kewajiban kaum muslim baik sebagai individu maupun umat, sekaligus menjadi ciri dan karakternya yang menonjol yang membedakan antara masyarakat Islam dengan masyarakat lain.
3.      Perang suci (jihad fi sabilillah)
Jihad bisa dipahami sebagai usaha yang sungguh-sungguh, dengan mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki di waktu perang, atau di waktu damai, dengan lisan atau dengan apa saja demi meninggikan kalimat Allah dan memuliakan gama-Nya.
            Tanpa dakwah, umat Islam dapat kehilangan arah. Dengan dakwah umat Islam menjadi saudara, seperti dalam potret idealitas. Kehidupan seorang dapat dilihat dari keyakinannya, sedangkan keyakinan itu ditentukan oleh pengetahuannya.
             Kerusakan telah melanda seluruh dunia, sehingga tidak ada di atas bumi ini-pada masa itu-satu umat yang baik wataknya; tidak ada satu masyarakat pun yang tegak di atas dasar kebijakan dan akhlak luhur; tidak satu pun pemerintahan yang bersendikan keadilan dan kasih sayang; tidak ada kepemimpinan yang mencerminkan ilmu dan hikmah; dan tidak ada satu agama asli yang benar-benar sesuai dengan ajaran Nabi-nabi.[16]
            Dakwah Islam tidak hanya untuk umat Islam saja tetapi demi perbaikan manusia seluruhnya. Dunia membutuhkan dakwah Islam agar tidak hancur. Masyarakat didunia ini tidak ingin dikuasai oleh kekuatan mana pun yang penindas, perusak moral, dan serakah
            Dengan dakwah pula, kebenaran Islam tidak akan berhenti dalam satu generasi. Dakwah Islam berfungsi sebagai estafet bagi peradaban manusia. Dakwah berfungsi menjaga orisinilitas pesan dakwah dari nabi SAW dan menyebarkannya kepada lintas generasi. Dunia dalam keadaan bahaya bila dakwah berhenti. Berikut adalah salah satu ayat yang menjelaskan siksa bagi masyarakat yang menentang dakwah.
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang  nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. At-Taubah [9]: 70)
            Sedangkan salah satu hadis menjelaskan bahwa fungsi dakwah adalah mencegah laknat Allah SWT, yakni siksa untuk keseluruhan manusia didunia. Ajaran yang disiarkan melalui dakwah dapat menyelamatkan manusia dan masyarakat pada umumnya dan hal-hal yang dapat membawa pada kehancuran. Oleh karena itu dakwah bukanlah suatu pekerjaan yang asal dilaksanakan sambil lalu saja, melainkan suatu pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap pengikutnya. Allah berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Imran [2]: 104).
C. Faktor Hidayah dalam Sistem Dakwah
            Di dalam dakwah, tentunya terdapat sistem yang mendukung keberhasilan dakwah tersebut. Sistem dakwah merupakan rangkaian unsur-unsur dakwah yang saling memengaruhi satu sama lain, namun memiliki satu tujuan untuk menyatukan. Sistem dakwah merupakan salah satu unsur yang dapat mempengaruhi tercapainya tujuan dalam dakwah. Di dalam sistem dakwah, tentunya tidak akan lepas dari adanya beberapa faktor. Salah satu faktor yang terdapat dalam sistem dakwah yaitu faktor hidayah. Hidayah merupakan petunjuk yang langsung diberikan oleh Allah SWT kepada hamba yang telah dikehendaki-Nya untuk menuju ke jalan yang benar atau lurus. Tidak hanya dapat diartikan sebagai petunjuk ke jalan yang benar atau lurus, hidayah juga dapat diartikan secara luas. Dengan adanya rezeki, pertolongan, dan pemberian apa pun yang telah Allah SWT berikan, itu semua dapat diartikan sebagai hidayah. Hidayah juga dapat diartikan menjadi dua. Pertama, hidayah hanya dapat merujuk kepada diberikannya pemahaman tentang Islam yang lebih mendalam. Kedua, hidayah sebagai petunjuk agar manusia sedikit demi dapat menggerakkan dirinya untuk menjalankan ajaran Islam yang telah dipahaminya. Banyak sekali cara Allah SWT untuk memberikan hidayah kepada Hamba-Nya. Namun, terkadang hamba-Nya tidak menyadari bahwa sesungguhnya dia telah mendapatkan hidayah dari Allah SWT.[17]
Berbeda dengan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT kepada Hamba-Nya, istilah hidayah untuk hubungan manusia dengan manusia adalah dengan memberikan hadiah sebagai petunjuk rasa simpati dari pemberi hadiah kepada penerima. Tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikan dirinya sebagai makhluk yang mendapatkan hidayah dengan selalu memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama makhluk-Nya.
Manusia dapat mengusahakan agar dirinya mendapatkan hidayah dari Allah SWT dengan banyak cara. Seperti memperdalam ilmu pengetahuannya tentang Islam. Salah satunya dengan membaca buku-buku yang berisi tentang pemahaman Islam yang mendalam. Dengan membaca buku-buku ilmu pengetahuan tentang Islam, akan mempengaruhi pikiran pembaca agar lebih ingin mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam ajaran agama Islam itu. Meskipun membutuhkan waktu yang relatif lama, karena memahami buku tidak hanya dilakukan satu atau dua kali. Butuh waktu yang relatif lama untuk memahami isi-isi buku tersebut secara mendalam. Ikhtiar memperoleh hidayah dengan membaca buku-buku tentang Islam, terkadang tidak membutuhkan orang lain, karena terkadang hidayah itu datang tanpa di duga.[18] 
Memperdalam ilmu pengetahuan tentang Islam tidak hanya dapat dilakukan dengan membaca buku-buku tentang Islam saja, melainkan dapat dilakukan dengan terjun langsung ke dalam masyarakat dan membuktikan apa yang telah dipelajari dalam buku-buku atau bacaan. Melihat kondisi suatu masyarakat muslim di sebuah wilayah agar dapat lebih mendalami.
Wilayah Islam yang menjadi tempat perlindungan dari ancaman kerusuhan akan sangat berpengaruh untuk seseorang, karena di situlah seseorang akan merasakan bagaimana rasanya kedamaian hidup sehingga orang tersebut lama kelamaan akan terpengaruh oleh keadaannya dilingkungannya sehari-hari. Di situlah hidayah dari Allah SWT akan muncul.[19]
Tidak hanya terjun ke dalam wilayah yang menjadi tempat perlindungan, seseorang dapat mempelajari tentang agama-agama yang ada di dunia ini. Setiap agama mempunyai pedoman masing-masing. Seperti agama Islam yang berpedoman kepada Al-Quran dan Hadits. Jika Allah SWT berkehendak, maka hanya dengan Al-Quran seorang makhluk yang sebelumnya berbuat menyimpang dari kebenaran, dapat kembali ke jalan kebenaran. Proses pendalaman menggunakan pedoman-pedoman agama tidak dapat di ukur seberapa lama waktunya. Bisa jadi pada saat orang tersebut masih dalam proses pendalaman tentang Islam, Allah SWT dengan waktu yang tak disangka-sangka memberikan hidayah langsung kepada Hamba-Nya. Dengan keindahan bahasa Al-Quran, dapat memikat seseorang untuk lebih mencintainya dan ingin lebih mengetahui isi serta ingin untuk mengamalkannya. Keindahan bahasa Al-Quran dapat memengaruhi pikiran seseorang dan dapat menggerakkan hatinya untuk lebih ingin menuju kebenaran.
Terkadang Allah SWT juga memberikan hidayah kepada Hamba-Nya dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Allah SWT memberikan musibah kepada hamba yang dikehendaki-Nya agar mereka sadar. Seperti halnya mendekatkan kematian kepada seorang hamba agar ia sadar dan menuju ke jalan yang benar dan menjadi yang lebih baik. Karena dengan mendekatkan kematian kepada seseorang, mungkin dapat menyadarkan bahwa kekuatan manusia itu tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan Allah SWT. Jika kematian sudah ada di depan mata, manusia hanya dapat berserah diri dengan apa yang terjadi.[20]
Setelah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT di saat keadaan menggambarkan bahwa kematian sudah di depan mata, namun ia masih diselamatkan oleh Allah SWT dan di situlah hamba tersebut akan mengerti jika Allah SWT menginginkan ia menuju jalan kebenaran dan menjadi yang lebih baik lagi.
Ada hal yang tidak bisa dihindarkan dari manusia, yaitu kerja sama antara manusia satu dengan yang lainnya. Dengan adanya kerja sama, maka lebih memudahkan untuk manusia mendapatkan hidayah dan menjalankan dakwah. Ketika seseorang mampu berbaur dengan orang lain, dengan begitu tidak menutup kemungkinan untuk orang tersebut mendapatkan hidayah dari cara kerja sama tersebut.[21]
 Dengan begitu dakwah akan lebih mudah, karena Allah SWT telah memberikan hidayah-Nya kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya. Umat Islam akan lebih mudah untuk diarahkan ke jalan kebenaran setelah mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT.



BAB II
PENUTUP
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah bahwa dalam proses berdakwah sangat penting memperhatikan hakikat dakwah maupun tentang dakwah lainnya, supaya mitra dakwah dapat dengan mudah menerima apa yang kita sampaikan.  










Daftar Pustaka
Ahmad, Amrullah. Dakwah dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Prima Duta, 1983.
  Anas, Muhammad Yusuf. Kisah 10 Mualaf Paling Berpengaruh di Eropa. Jogjakarta: Diva Press, 2010.
Aripudin, Acep., Mudhofir Abdullah. Perbandingan Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2014.
As, A. Sunarto. Etika Dakwah. Surabaya: Uinsa Press, 2014.
Aziz, Moh Ali. Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana. 2017.
Hafidhuddin, Didin. Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani Press, 1998.
Hamid, Nadjib, dan Heny Siswono. Pendidikan Al-Islam. Surabaya: Dikdasmen PWM Jatim, 2012.
Ismail, Ilyas. Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah.
Jakarta: Penamadani, 2008.
Jasmadi. 2013. At-Tabsyir. Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Komunitas. Membangun Relasi Hubungan antara Umat Beragama. Vol. 5: 170.
K. Albi, Ramadhani, Julian A., Muhammad Aref Rahma. Dr. Zakir Naik, Dokter yang Mengislamkan Ratusan Ribu Orang. Yogyakarta: Mutiara Media, 2016.
Muchlisah, Fauziyah. Kisah Para Mualaf yang Menemukan Kebahagiaan dan Kesejukan Islam. Jakarta: Kanaya Press, 2014.
Mulkhan. 2013. Budaya Massa dan Budaya Populer. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. Vol. 1, Nomor 2..
Rubba, Sheh Sulhawi. Serpihan sejarah dakwah. Surabaya: Uinsa Press, 2019.
Salahuddin, Rahmad. Pendidikan Al-Islam. Surabaya: Majelis Dikdasmen PWM Jatim, 2012.
Taufik, M Tata. 2013. Dakwah Era Digital. Pengertian Ilmu Dakwah. Kuningan: Pustaka Al-Ikhlas. http://www.said.net/book/19/12447.pdf



[1] A. Sunarto AS., Etika Dakwah. Cet. 1 (Surabaya: Uinsa Press, 2014), h. 62

[2] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet. 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 91
[3] Acep Aripuddin, Mudhofir Abdullah. Perbandingan Dakwah. Cet. 1
(Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2014), h. 54


[4] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet. 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 87
[5] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet. 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 88

[6] M Tata Taufik. Dakwah Era Digital. (Kuningan: Al-Ikhlas, 2013), h. 9
[7] Rahmat Salahuddin TP, Pendidikan Al-Islam VIII, (Surabaya: Majelis Dikdasmen PWM Jatim), h. 187
[8] Albi K., Ramadhani, Julian A., Muhammad Aref Rahmat, Dr. Zakir Naik Dokter yang Mengislamkan Ratusan Ribu Orang, Cet. 3 (Yogyakarta: Mutiara Media, 2016)
[9] Nadjib Hamid, Heny Siswondo, Pendidikan A-Islam, Cet. 4 (Surabaya: Majelis Dikdasmen PWM Jatim, 2016), h. 87

[10] Rahmat Salahuddin TP, Pendidikan Al-Islam VIII, (Surabaya: Majelis Dikdasmen PWM Jatim), h. 187

[11] Rahmat Salahuddin TP, Pendidikan Al-Islam VIII, (Surabaya: Majelis Dikdasmen PWM Jatim), h. 188
[12] Amrullah Ahmad, Dakwah dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Prima Duta Yogyakarta, 1983)
[13] Mulkhan, “Budaya Massa dan Budaya Populer“, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, (Kudus:2013), h.30
[14] Thoha Yahya Omar, Ilmu Dakwah (Jakarta: Wijaya,1971), h. 1.
[15] Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah Sayyid Quthub: Rekontruksi Pemikiran Dakwah Harakah, Cet. 2 (Jakarta: Penamadani, 2008), hh. 164-177
[16] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), hh. 97-102
[17] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), hh. 106-107
[18] Fauziah Muclisah, Kisah Para Mualaf yang Menemukan Kebahagiaan dan Kesejukan Islam , Cet 1 (Jakarta: Kanaya Press, 2014), h. 6
[19] Sheh Sulhawi Rubba, Serpihan Sejarah Dakwah, Cet 2 (Surabaya: Uinsa Press, 2019) h. 22
[20] Muhammad Yusuf Anas, Kisah 10 Mualaf paling Berpengaruh di Eropa, Cet 1 (Jogjakarta: Diva Press, 2010), hh. 196-197

[21] Jasmadi, Membangun Relasi Hubungan antara Umat Beragama”, Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Komunikasi, 2010, h.170